Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di banyak wilayah Indonesia membuat pemerintah mengadakan kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri. Sebagian besar wilayah telah melakukan kegiatan ORI, namun di tengah kegiatan tersebut terdapat kejadian-kejadian yang meresahkan seperti, dehidrasi, demam, sakit lainnya, sampai pada kematian. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang atau anak yang diimunisasi mengalami demam, akan tetapi hal tersebut adalah wajar dan dapat ditangani dengan baik. Sedangkan kejadian yang mengakibatkan cacat, sakit lainnya, atau bahkan kematian, perlu ditinjau kembali penyebabnya.

Berikut ini adalah berita kejadian ketika imunisasi difteri 2018:

1. Polisi Selidiki Kabar Siswi SDN di Tangsel Meninggal Usai Imunisasi Difteri

(https://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-selidiki-kabar-siswi-sdn-di-tangsel-meninggal-usai-imunisasi-difteri.html)

Merdeka.com – Seorang siswa SDN 1 Rawa Buntu, Tangerang Selatan, dilaporkan meninggal setelah disuntik difteri di sekolahnya. Informasi kematian bocah bernama Nazwa Fahira Andrean itu beredar di media sosial sejak kemarin.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun telah meninggal dunia ananda Nazwa Fahira Andrean, 23 Februari 2018, siswi kelas 4B SDN 1 Rawa Buntu, malam tadi di Puskesmas Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan,” tulis pesan berantai di pesan WhatsApp, Sabtu (24/2).

Dari pesan berantai itu, diinformasikan almarhumah memiliki riwayat penyakit asma. Dan sebelum meninggal, almarhumah disebutkan melakukan suntik difteri.

“Almarhumah informasinya memiliki riwayat asma dan sebelumnya usai melakukan suntik difteri II, beberapa hari lalu demam. Semoga Almarhummah Khusnul Khotimah serta segala amal ibadah almarhummah diterima Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan & ketabahan, amin,” tulis dalam pesan berantai itu.

Dalam pesan berantai itu, tersirat pesan yang bunyinya. “Buat para orang tua, dokter, mantri atau perawat, dimohon memastikan kondisi anak-anak sebelum diberikan imunisasi difteri jangan sampai ada kesalahan prosedur karena kondisi anak atau riwayat penyakit sebelumnya. Bukan memasalahkan difterinya ya, ini sudah jalannya, kita kembalikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” sebut dalam pesan itu.

Terpisah pihak SDN 1 Rawa Buntu membantah Nazwa meninggal dunia karena difteri. Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Alexander mengatakan, pihak kepolisian setelah mengetahui viralnya pesan berantai yang menyebutkan seorang siswi meninggal dunia usai diimunisasi difteri langsung melakukan pengecekan.

“Benar, dipimpin Panit Reskrim kami lakukan pengecekan terkait kematian siswa SDN 01 Rawa Buntu yang viral meninggal seusai disuntik difteri II, pada hari Sabtu tanggal 24 Februari 2018,” ucap Alex.

Dia menerangkan, berdasarkan hasil pengecekan itu, pihaknya memeriksa sejumlah saksi. Di antaranya Marjaya (kepala sekolah SDN 01 Rawa Buntu dan Khadijah, Guru SDN 01 Rawa Buntu).

Dari keterangan kedua saksi, diketahui bahwa pihak Sekolah SDN Rawa Buntu mengadakan kegiatan suntik difteri II pada hari Senin tanggal 12 Februari 2018 lalu. Namun dipastikan bahwa almarhumah tidak dilakukan suntik difteri II.

“Keterangan pihak sekolah yang bersangkutan, tidak pernah suntik difteri di Sekolah baik suntik difteri I maupun difteri II,” ujar Alex.

Namun begitu, polisi mengaku belum mengetahui apakah siswi itu melakukan suntik difteri di tempat lain. “Kami belum bisa pastikan itu, karena pihak keluarga belum bisa dimintai keterangan, karena masih syok,” ucap Alex.

Sementara itu, Dinas Kesehatan kota Tangerang Selatan memastikan kematian almarhumah Naswa Fahira Andrean (10), pada Jumat (23/2) kemarin malam, akibat penyakit asma akut yang dideritanya sejak berusia dua tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan kota Tangsel, Tulus Muladiono menyatakan, meninggalnya almarhumah Nazwa bukan disebabkan dari pemberian imunisasi difteri.

“Kami sudah mendatangi keluarga dan pihak puskesmas Rawa Buntu untuk mengkroscek kejadian sebenarnya,” ucap Tulus Muladiono.

Berdasarkan hasil informasi dan data yang dihimpun, dipastikan almarhumah Nazwa meninggal dunia akibat penyakit asma yang dia derita.

“Ini juga diperkuat dari pernyataan pihak orang tua Nazwa yang kami temui, kalau orang tua menyatakan putrinya meninggal karena asma yang diderita. Bukan karena suntik difteri II yang almarhumah lakukan,” ucap dia.

Meski begitu, Tulus memastikan masih menelusuri waktu dan tempat almarhmumah Nazwa mengikuti imunisasi difteri ke dua.

Berdasarkan catatan yang ada, Naswa tidak melakukan imunisasi difteri I dan II di sekolah SDN 01 Rawa Buntu, namun Tulus memastikan kalau almarhumah Naswa mengikuti difteri I di Puskesmas Rawa Buntu pada 24 Desember 2017 lalu.

“Dari catatan kami almarhumah tercatat mengikuti difteri I di Puskesmas Rawa Buntu, yang kedua (difteri) ini kami belum dapat datanya, karena di sekolah yang bersangkutan itu tidak ada,” kata Kepala Puskesmas Rawa Buntu, Hartono.

Dia melanjutkan, berdasarkan data dari SDN01 Rawa Buntu, pihaknya melakukan imunisasi difteri II pada 12 Februari 2018. Namun nama Nazwa Fahira Andrean tak ada di daftar difteri II sekolah itu.

“Kami dari Puskesmas juga masih mencari data, apkah almarhumah ikut difteri II di Puskesmas atau dimana, kapan waktunya juga belum kami ketahui. Karena masih suasana duka, kami belum bisa tanyakan detail kepada pihak orang tua,” tandasnya. [gil]

2. Dinkes Ngawi Bantah Siswa SD Meninggal Setelah ORI Difteri

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/03/p50rjz409-dinkes-ngawi-bantah-siswa-sd-meninggal-setelah-ori-difteri)

REPUBLIKA.CO.ID, NGAWI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi, Jawa Timur menangani kasus seorang siswa SD yang meninggal dunia diduga setelah mendapatkan imunisasi difteri di sekolahnya pada akhir Februari 2018. Korban meninggal adalah Alhaz Celsia Rua (7), siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.

“Hasil laporan, ada siswa yang sakit hingga meningal dunia setelah divaksin difteri. Tapi bukan vaksin difteri yang menyebabkan meninggal. Siswa ini meninggal diduga karena radang otak,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Ngawi dr Yudhono, di Ngawi, Sabtu (3/3).

Pihaknya menjelaskan, vaksin atau imunisasi difteri tidak menyebabkan kematian, justru kalau terserang penyakit difteri bisa berakibat kematian. Selain itu, banyak anak, siswa, dan sasaran lainnya yang mendapatkan imunisasi difteri dan setelahnya tidak apa-apa.

“Banyak contoh anak yang divaksin tetap dalam kondisi sehat-sehat saja setelahnya,” kata dia saat berkunjung ke rumah duka.

Sementara, sesuai informasi Alhaz Celsia Rua bersama sekitar 242 siswa di sekolah setempat mendapatkan imunisasi difteri pada tanggal 27 Februari. “Setelah mendapat imunisasi difteri, anak saya mengeluh pusing dan mual serta demam tinggi. Kemudian kami bawa pulang,” kata ibu korban, Sumami.

Karena kondisi yang tidak kunjung sembuh, sang orang tua membawa korban ke Puskesmas Kasreman. Namun, pihak Puskesmas merujuk korban ke Rumah Sakit Widodo.

“Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, anak saya akhirnya meninggal dunia. Padahal sebelumnya ia dalam kondisi sehat,” katanya.

Pihak Dinkes membantah meninggalnya Alhaz Celsia Rua akibat imunisasi difteri. Dinkes juga membantah imunisasi difteri memicu radang otak. Efek dari vaksin tersebut biasanya hanya demam dan setelah minum obat penurun panas, sang anak akan kembali normal.

Sedangkan, data Pemkab Ngawi mencatat, imunisasi difteri yang digelar tersebut merupakan bagian dari kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri menyusul status KLB difteri yang diberlakukan oleh Dinkes Provinsi Jatim. Jumlah sasaran anak usia 1 tahun sampai usia 19 tahun di Kabupaten Ngawi yang mendapat imunisasi difteri tersebut mencapai sebanyak 204.226 orang.

Imunisasi massal difteri tersebut dilakukan di pos pelayanan yang terdapat di posyandu, PAUD, TK, RA, SD/MI, SMP/Mts, SMA/MA serta instansi pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren dengan pos sebanyak 2.733 pos. Imunisasi massal tersebut melibatkan sebanyak 504 petugas medis terlatih.

3. 73 Santri Jember Mual Massal Pasca Imunisasi Difteri

(http://regional.liputan6.com/read/3332600/73-santri-jember-mual-massal-pasca-imunisasi-difteri)

Liputan6.com, Jember – Puluhan santri Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Dusun Jatirejo, Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Jember, Jawa Timur, dirawat di Puskesmas Jenggawah. Sebagian besar juga dirawat intensif di pesantren, karena mengalami mual-mual, pusing dan tubuh lemas, Selasa malam, 27 Februari 2018.

Gejala tersebut diduga karena efek samping imunisasi difteri yang diberikan Selasa pagi. “73 santri mengalami mual, pusing dan lemas, dengan tubuh gementar, yang diduga karena efek dari vaksin imunisasi difteri,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum, KH Lutfi Ahmad di Ponpes Madinatul Ulum, Rabu, 28 Februari 2018.

Dia menjelaskan, ada ratusan santri yang mengikuti program kegiatan imunisasi difteri, yang digelar Puskesmas Jenggawah, Selasa pagi. Progam tersebut digelar di Ponpes Madinatul Ulum yang diikuti oleh santri juga siswa SMP dan MA Yayasan Ponpes Madinatul Ulum.

 

Usai imunisasi, tidak terjadi hal-hal yang mencurigakan. Siswa dan santri belajar seperti biasanya. Namun setelah memasuki pukul 18.00 WIB, bersamaan dengan saat Salat Maghrib, banyak santri yang mengeluh lemas, pusing, dan mual.

“Namun tidak sampai muntah,” katanya.

Total santri yang mengalami gejala serupa mencapai 73 orang. Mereka diduga tak tahan efek samping imunisasi difteri. Akibatnya, sejumlah santri dilarikan ke puskesmas.

“Bahkan, pihak dokter puskesmas dan petugas medis lainnya, sejak tadi malam (Selasa), ngepos di Ponpes Madinatul Ulum,” ucap mantan Anggota DPR RI dari Fraksi Amanat Nasional itu.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.