Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang mengerikan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini. (Wikipedia)

Pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 beberapa wilayah di Indonesia menetapkan kasus penyakit difteri ini adalah KLB (Kejadian Luar Biasa). Oleh karena itu, kami menyusun beberapa berita dari situs web mengenai kasus difteri pada awal tahun 2018. Berikut beberapa beritanya:

1. Gubernur Jawa Timur Nyatakan Jatim KLB Difteri

(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180118234809-20-270048/gubernur-jawa-timur-nyatakan-jatim-klb-difteri)

Jakarta, CNN Indonesia — Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau yang karib disapa Pakde Karwo menyatakan bahwa Jatim saat ini berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri. Catatan Dinas Kesehatan Jatim, penyakit yang disebabkan bakteri itu menyebar di 14 kabupaten dan kota.

“Lima daerah dengan jumlah penderita tertinggi, lebih dari 21 pasien, berada di Kabupaten Sampang, Gresik, Nganjuk, Pasuruan, dan Kota Surabaya,” tutur Pakde Karwo, Kamis (18/1).

Pakde Karwo melanjutkan, sementara di sembilan daerah lainnya, jumlah penderita di bawah 21 orang. Sembilan daerah tersebut yakni Bojonegoro, Sidoarjo, Jombang, Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Lumajang, Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar.

“Untuk penanganan kasus dan memutus rantai difteri, Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran Outbreak Response Immunization (ORI), dengan 82 persen untuk operasional sesuai kebutuhan kabupaten/kota,” katanya.

“Kira-kira kebutuhan anggaran untuk penanganan sebesar Rp 98 miliar. Jumlah itu dengan skema pembiayaan sharing antara provinsi dan daerah masing-masing 50 persen,” ucap Pakde Karwo.

Anggaran tersebut untuk kegiatan vaksin imunisasi anak berusia 1-19 tahun di seluruh Jatim sebanyak 10.717.765 orang. Imunisasi diberikan sebanyak tiga kali dengan interval 5 bulan.

Soekarwo menyebut, KLB difteri di Jatim sebagai sebuah anomali, saat perekonomian masyarakat Jatim mulai terlihat membaik beberapa tahun terakhir.

“Saya sedih tiba-tiba ada anomali difteri, karena itu saya ajak semua kabupaten dan kota untuk bergerak bersama-sama memberantas difteri,” ujar Pakde Karwo.

Sementara itu, Bupati Jember, Faida juga menetapkan status KLB di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ada empat kasus penyakit difteri tanpa ada korban meninggal pada 2017.

“Status KLB ini untuk memproteksi daerah Jember secara epidemologi dan menyelamatkan generasi dari kasus difteri,” tuturnya.

Dibandingkan 38 kabupaten dan kota lainnya, jumlah kasus difteri di Jember terbilang rendah di bawah Kabupaten Madiun (2 kasus), Kota Madiun, Bondowoso, Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek (3 kasus).

Cenderung Turun

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah penderita difteri di Jember cenderung turun. Jika pada 2012 ditemukan 58 kasus dengan satu pasien meninggal dunia, maka pada 2013 terjadi penurunan menjadi 46 kasus. Namun saat itu jumlah pasien meninggal meningkat menjadi lima kasus.

Tahun 2014, jumlah kasus menurun menjadi 12 kasus dengan tiga pasien meninggal dunia. Setahun kemudian, hanya tersisa delapan kasus dan tanpa korban meninggal dunia. Dua tahun berikutnya, 2016 dan 2017, hanya ditemukan masing-masing empat kasus dengan jumlah korban meninggal nihil.

Faida memerintahkan adanya gropyokan (kerja bersama) yang melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) untuk melakukan imunisasi dengan usia sasaran 1-19 tahun.

“Gerakan ini melibatkan seluruh posyandu, puskesmas, fasilitas kesehatan, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, universitas, dan pondok pesantren,” ujarnya.

Sedangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, akan melakukan imunisasi massal dengan pemberian vaksin untuk mencegah penyakit difteri melalui program Outbreak Response Immunization (ORI). Langkah ini dilakukan sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, tahun 2017, Surabaya ada 29 kasus difteri, dimana hasil lab sebanyak 28 dinyatakan negatif. Namun, hingga akhir desember 2017 ada satu yang dinyatakan positif.

“Nanti kita akan lakukan program ORI diseluruh tingkat kecamatan dan kelurahan, kita lakukan secara massal,” tuturnya.

Sasaran dari program ORI, kata dia, usia satu hingga dibawah 19 tahun. Penyakit difteri ini sangat mengerikan dan bisa menyebabkan kematian.

Menurutnya, jika seseorang terkena penyakit difteri akan mengalami kondisi demam, sakit pada tenggorokan, kemudian dipangkal tenggorokan terdapat selaput abu-abu yang bisa membesar dan menyumbat aliran saraf dan jantung, sehingga dapat menyebabkan kematian.

“Kita punya sasaran untuk yang dibawah 19 tahun mencapai sekitar 753.498 orang. Usia 19 tahun kurang sehari juga tetap akan kita lakukan imunisasi,” katanya.

Data dari Dinkes menyebutkan, tahun 2017 penyakit difteri menyerang usia dibawah 10 tahun mencapai 24 orang, sedangkan usia 26 hingga 30 tahun sebanyak 3 orang, dan terakhir satu orang dengan usia lebih dari 60 tahun. Seseorang bisa terkena penyakit difteri dikarenakan imunisasi dasarnya tidak lengkap.

2. Gawat, Jember Ditetapkan KLB Difteri

(https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3819479/gawat-jember-ditetapkan-klb-difteri)

Jember – Kasus Difteri di Jember ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Status KLB Difteri di Jember ini ditetapkan Bupati Jember dr Faida.

Dalam rilis yang diterbitkan Humas Kabupaten Jember, sepanjang tahun 2017 terjadi 4 kasus Difteri di Jember. Di Jawa Timur, jumlah itu sama dengan kabupaten Pamekasan, Magetan, dan Kota Mojokerto. Untuk 4 kasus Difteri di Jember, tidak ada penderita yang meninggal dunia.

Dalam rilis juga disampaikan, dalam enam tahun terakhir, kasus Difteri di Jember terbanyak terjadi pada tahun 2012 dengan jumlah penderita 58 orang menyebabkan 1 orang meninggal dunia. Sedangkan korban meninggal terbanyak terjadi pada tahun 2013, yakni 5 orang dari 46 penderita.

Sejak tahun 2012, penderita Difteri di Jember juga terus menurun. Bahkan korban meninggal terakhir terjaditahun 2014, yakni 3 orang dari 12 penderita.

Bupati Jember dr Faida menegaskan, penetapan KLB Difteri ini dalam rangka memproteksi Jember secara epidemologi dari wabah Difteri. Apalagi Pemprov Jatim juga telah menetapkan status KLB Difteri di Jawa Timur.

“Harus dilakukan proteksi di daerah seperti amanah undang-undang dan instruksi Gubernur Jawa Timur agar tidak meluas dan epidemik hingga tidak ditemukan lagi kasus Difteri,” kata Faida, Rabu (17/1/2018).

Oleh karena itu, Faida telah menginstruksikan untuk dilakukan imunisasi secara masif. Sasarannya adalah warga usia 1 tahun hingga 19 tahun.

“Upaya pencegahan bagi carrier (pembawa virus Difteri) dan suspect (penderita yang diduga) Difteri harus dilakukan secara gropyokan. Melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, baik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL),” terang Faida.

Imunisasi mencegah Difteri ini, menurut Faida bisa dilakukan di Posyandu, Puskesmas, sejumlah fasiltas kesehatan, sekolah, perguruan tinggi dan pondok pesantren. Selain itu, juga harus dilakukan monitoring yang hasilnya akan selalu dievaluasi setiap bulan.

“Ini untuk menyelamatkan masyarakat, khususnya generasi muda dari wabah Difteri,” pungkas Faida.

3. Cegah Difteri, Pemkab Jember Lakukan Imunisasi Tiga Kali dalam Setahun

(http://surabaya.tribunnews.com/2018/02/22/cegah-difteri-pemkab-jember-lakukan-imunisasi-tiga-kali-dalam-setahun)

SURYA.co.id | JEMBER – Penyakit Difteri menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Kabupaten Jember saat ini. Sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit Difteri, Pemkab Jember menggelar Sosialiasi bersama dengan ratusan guru dan kepala sekolah dari berbagai daerah di seluruh Kabupaten Jember.

“Kita undang kepala sekolah beserta guru, karena nantinya dapat mendata dan memastikan hak-hak anak didiknya untuk mendapatkan edukasi serta imunisasi difteri” terang Faida, Bupati Jember, di Gedung Serba Guna Jember, Kamis (22/2/2018).

Sampai saat ini, di Kabupaten Jember terdapat empat kasus warga terjangkit penyakit difteri. Namun Faida menegaskan pihaknya akan melakukan terus berkomitmen memberantas penyakit Difteri agar tidak mewabah, dengan melaksanakan imunisasi difteri selama tiga putaran, yakni pada bulan Februari, Juli dan Nopember.

“Aset paling penting adalah sumber daya manusia, maka dari itu semua elemen juga harus sehat. Difteri ini bahaya kita komitmen untuk cegah ini” tutup Faida.

Pada akhir acara, Faida yang juga seorang dokter Direktur Utama RS Bina Sehat Jember itu, melakukan suntikan imunisasi difteri kepada salah satu pelajar yang ikut serta dalam sosialisasi hari ini.

4. Kasus Difteri di Aceh Meningkat

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/06/p55wqf423-kasus-difteri-di-aceh-meningkat)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH — Kasus difteri di Provinsi Aceh meningkat menjadi 59 kasus dari sebelumnya 55 kasus dalam dua bulan terakhir sepanjang 2018. Dari puluhan kasus difteri tersebut dilaporkan tidak ada yang meninggal dunia.

“Data per 1 Maret 2018 tercatat 55 kasus, meningkat menjadi 59 kasus per 5 Maret. Artinya, dalam dalam empat hari terakhir ada empat kasus,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Aceh Abdul Fatah di Banda Aceh, Selasa (6/3).Pasien-pasien difteri tersebut dirawat di sejumlah rumah sakit kabupaten atau kota di Provinsi Aceh. Tambahan empat kasus difteri tersebut terjadi di Aceh Besar dua kasus, serta Aceh Tengah masing-masing satu kasus.

Abdul Fatah menyebutkan, 59 kasus difteri tersebut tersebar di 13 dari 23 kabupaten atau kota di Provinsi Aceh. Yang terbanyak terjadi di Kabupaten Pidie dengan 11 kasus.

Kemudian, Kabupaten Aceh Besar 10 kasus, Kota Banda Aceh sembilan kasus, Kabupaten Aceh Jaya tujuh kasus, Kabupaten Aceh Utara enam kasus, serta Kabupaten Bireuen dan Aceh Tengah masing-masing empat kasus. Berikutnya Kota Lhokseumawe tiga kasus, serta Kabupaten Aceh Timur, Kota Sabang, Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Aceh Tamiang masing-masing satu kasus.

Jika bandingkan tahun sebelumnya, Abdul Fatah terjadi kenaikan drastis terhadap kasus difteri tersebut. Di mana sepanjang tahun 2017 terjadi 112 kasus difteri di Provinsi Aceh.

“Dan ini tentu mengkhawatirkan kita. Sebab, baru dua bulan saja sudah terjadi 59 kasus difteri atau hampir separuh dari total kasus tahun sebelumnya,” kata dia.

Abdul Fatah mengungkapkan sebagian besar kasus difteri tersebut terjadi karena pasien atau korban tidak pernah mendapat imunisasi lengkap. Sehingga daya tahan tubuh terhadap virus difteri menjadi lemah.

Oleh karena itu, kata dia, Dinas Kesehatan Aceh mengimbau orang tua memberikan imunisasi lengkap dan berkala kepada anak. Sebab, imunisasi merupakan upaya mencegah tertularnya virus difteri.

Penyakit difteri ini sangat cepat menular melalui udara, seperti batuk, kena percik air liur maupun terkena sentuhan. “Penyakit ini menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokkan disertai demam dan sesak nafas,” kata Abdul Fatah.

Imunisasi menurutnya, untuk kekebalan tubuh dan diberikan secara berkala. Imunisasi tidak bisa diberikan ketika si anak terserang virus. Oleh karena itu, berikan imunisasi secara lengkap dan berkala kepada anak.

5. Pemberian Vaksin Difteri di Pasuruan Capai 92% dari Batas Akhir 10 Maret 2018

(http://www.wartabromo.com/2018/03/15/pemberian-vaksin-difteri-di-pasuruan-capai-92-dari-batas-akhir-10-maret-2018/)

Pasuruan (wartabromo.com) – Pemerintah Kabupaten Pasuruan targetkan dapat memberikan vaksin difteri kepada 419.899 anak usia 1-19 tahun. Hanya saja, dari batas akhir 10 Maret 2018, pemberian vaksin masih 92%, belum sepenuhnya diberikan karena beragam kendala.

Agus Eko Iswahyudi, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pasuruan mengatakan, sebanyak 386.300 anak berusia di bawah satu tahun hingga 19 tahun yang sudah tervaksin. Sehingga, masih ada sisa 8 persen yang belum tervaksin.

“Dari sisa itulah, yang akan kami selesaikan dengan waktu yang ada,” ujarnya.

Pemberian vaksinasi diakui, tak semulus yang diperkirakan. Beberapa faktor diantaranya ada pandangan negatif, terkait label halal, masih mengemuka di tengah masyarakat.

“Ada sekolah yang sempat menolak, tapi setelah kami beri penjelasan akhirnya mau divaksin. Ada pula pondok yang masih menunggu label halal. Itu yang menghambat proses vaksinasi ini berjalan 100 persen,” jelas Agus.

Diketahui, beberapa waktu lalu, vaksin difteri sempat dianggap khatam, karena dianggap terdapat kandungan babi. Padahal, anggapan tersebut dipastikan tidak benar, hingga kemudian MUI menyatakan sikap resminya, yang intinya memperbolehkan program vaksinasi difteri.

Ditegaskan, vaksinasi difteri menjadi benteng satu-satunya untuk mencegah terinveksi difteri, karena kasus difteri tergolong mengkhawatirkan.

Dari data terdapat 46 diyakini suspek difteri sepanjang 2017 kemarin. Bahkan, tiga diantaranya meninggal dunia. Hal ini, yang membuat Pemkab menyatakan status KLB untuk difteri.

Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Kesehatan akan terus memvaksin difteri kepada 419.899 anak usia 1-19 tahun, sampai tuntas.
Program vaksinasi difteri itu sejatinya selesai 10 Maret 2018. Karena jumlah anak belum sepenuhnya tervaksin, program itu pun diperpanjang hingga 31 Maret 2018.

“Program ini dilakukan tiga kali. Tahap awal berjalan saat ini. Sementara tahap kedua dilakukan bulan April. Dan tahap terakhir dilakukan Agustus,” pungkasnya. (mil/ono)

6. 23 Ribu Vaksin Diberikan, Kota Minyak Masih KLB Difteri

(http://balikpapan.prokal.co/read/news/229044-23-ribu-vaksin-diberikan-kota-minyak-masih-klb-difteri)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Kesadaran masyarakat akan pentingnya mencegah penyakit difteri terus meningkat. Hal ini diakui Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan dr Balerina JPP. Kini banyak orangtua yang berinisiatif mendatangi puskesmas, rumah sakit, dan klinik terdekat untuk mendapatkan vaksin difteri.

Puluhan ribu vaksin telah didistribusikan kepada anak-anak di Kota Minyak. Sebanyak 23 ribu vaksin untuk anak usia 8-19 tahun telah dibagikan ke sekolah-sekolah. Baru-baru ini, kata Balerina, pihaknya membagikan 900 vaksin difteri di MTs Negeri 1 Balikpapan.

“Mereka (warga) sadar kok. Mereka datang sendiri jika memang anaknya belum mendapat vaksin,” kata Balerina, kemarin.

Sedangkan anak di bawah usia 19 tahun, biaya vaksin paling mahal sebesar Rp 100 ribu.

“Bagi yang ingin divaksin silakan datang ke puskesmas, klinik atau rumah sakit terdekat,” pintanya.

Sementara itu, wilayah di Balikpapan yang telah divaksin meliputi Kecamatan Balikpapan Tengah, Utara dan Selatan.

“Untuk pelaksanaan vaksin di timur dan barat sedang berlangsung. Sampai saat ini masih dalam masa ORI (outbreak response immunization),” terangnya.

Hingga kini, difteri positif mikroskopis yang terdeteksi sebanyak 23 orang dan 3 orang positif kultur, sehingga Balikpapan dinyatakan kejadian luar biasa (KLB) difteri.

“Kalau KLB itu ‘kan positif kultur. Sampai saat ini ada tiga kasus positif kultur dan tiga ini sudah diobati dan sembuh. Nantinya status KLB bisa hilang kalau sudah tidak ada kasus lagi,” akunya.

Untuk diketahui, ada tiga tahap ORI yang dilaksanakan menyusul KLB difteri. Balikpapan mendapat kesempatan untuk melaksanakan tiga kali ORI. Pertama dilaksanakan pada Januari, kedua Februari, dan ketiga Maret.

“Nanti yang terakhir Juni. Kalau sudah tidak ada kasus, baru bisa dicabut status KLB. Sampai saat ini bantuan vaksin difteri masih lanjut dan tidak ada hambatan,” tandasnya. (cha/vie/k1)


Itulah beberapa kasus yang dapat kami sampaikan.

Menanggapi hal tersebut, SD Islam Imam Syafi’i mendapatkan jadwal kegiatan imunisasi 3 tahap dalam tahun 2018. Insya Allah tahap pertama akan dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 2018.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *